Penguatan Peran Perempuan dalam Tata Kelola Ekonomi Desa di Desa Nglanggeran

Desa Nglanggeran (Kabupaten Gunung Kidul) terletak di lekuk pegunungan, dengan perpaduan antara tanah tinggi berbukit dan tanah datar persawahan.

Warganya menikmati hasil bumi dan juga mengelola wisata alam gunung api purba yang terletak di wilayah tersebut. Di desa ini Yayasan Tifa dan mitranya Institute for Research and Empowerment (IRE), melaksanakan program untuk mengembangkan tata kelola ekonomi local yang demokratis untuk memaksimalkan akses dan kemanfaatan bagi masyarakat desa terutama rumah tangga miskin dan rumah tangga yang dikepalai oleh perempuan.  Salah satu lembaga ekonomi local yang menjadi sasaran program adalah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

BUMDES Nglanggeran merupakan induk dari berbagai usaha ekonomi yang ada di desa Nglanggeran yang saat ini ada empat bidang usaha utama: i) Pariwisata Desa yang dikelola oleh Pokdarwis Desa Nglanggeran, ii) UEDSP (Usaha Ekonomi Desa Simpan Pinjam), iii) Usaha Grosir dan iv) Usaha pengelolaan dan pengolahan sampah.

Dalam kunjungan ke Desa Nglanggeran bulan Maret 2019, Yayasan Tifa berjumpa dengan ibu Susmiati, salah satu anggota KWT (Kelompok Wanita Tani) Dasawari. KWT Dasawari merupakan kelompok ibu-ibu yang dibentuk akhir 2017, paska pelatihan yang diadakan oleh Dinas Perindustrian kabupaten di desa Nglanggeran. Pelatihan yang diikuti kelompok ibu-ibu ditindaklanjuti dengan membentuk usaha bersama pengolahan pisang dengan cara swadaya termasuk pengumpulan modal bersama. Pengolahan pisang yang telah menghasilkan makanan kecil produksi rumahan berupa pisang coklat, kerupuk kulit pisang, kerupuk bonggol pisang, kerupuk jantung pisang dan saat ini sedang dijajaki pembuatan bakpia pisang, wingko babat pisang, dan sebagainya. Penjualan hasil produk kelompok ini dilakukan dengan menitip ke Griya Coklat di dekat obyek wisata embung. Pendampingan tim dari IRE termasuk menjembatani komunikasi antara kelompok ini dengan pemerintah desa dan juga dengan Kelompok Sadar Wisata (pokdarwis).

Selain KWT, juga sedang diupayakan untuk mendirikan sentra batik Nglanggeran yang dilakukan melalui pengadaan pelatihan batik kepada Masyarakat. Diharapkan sentra batik dapat menjadi media partisipasi masyarakat yang sebelumnya tidak dapat terlibat dan mendapatkan manfaat dari pariwisata yang menjadi kegiatan ekonomi unggulan di Desa Nglanggeran.

Pokdarwis Desa Nglanggeran sendiri telah ada sejak tahun 1999, dan menjadi lembaga resmi setelah adanya SK dari Desa tahun 2008 yang dimotori anak-anak muda desa Nglanggeran. Peran Pokdarwis adalah memberikan penyadaran ke masyarakat mengenai wisata desa dengan melibatkan semua komponen masyarakat. Pemasukan dari sektor pariwisata ke Desa Nglanggeran pada tahun 2018 kurang lebih sebesar 3 milyar rupiah. Sektor pariwisata yang dikelola Pokdarwis memang merupakan salah satu sektor yang paling maju dimana banyak unit usaha lainnya yang berada di bawah BUMDes, diantaranya pusat oleh-oleh Nglanggeran Mart, Griya Batik dan Layanan Spa.

Pokdarwis berencana untuk melakukan diversifikasi wisata dengan lebih banyak melibatkan anggota masyarakat yang lain, seperti wisata edukasi pertanian, peternakan, termasuk menggali wisata lainnya seperti air terjun, kampong pitu dan lainnya, agar anggota masyarakat lain dapat lebih berperan dan turut menikmati keuntungan sector pariwisata yang dimiliki desa tersebut. Program corporate social responsibility (CSR) banyak yang tertarik bekerjasama dengan pemerintah desa melalui BUMDes. Diantaranya Bank Indonesia yang mendukung pendirian Nglanggeran Mart, Griya Batik, dan lain sebagainya.

 

Hingga saat ini, IRE terus melakukan penguatan kapasitas kepada kelompok masyarakat (seperti KWT) di Desa Nglanggeran untuk mendorong pelibatan masyarakat oleh pemerintah desa dan BUMDes serta mengkaji pengembangan potensi ekonomi desa lain di desa tersebut. Salah satu pembelajaran dari implementasi program di Desa Nglanggeran, adalah peran penting anak muda dan perempuan yang cukup signifikan dalam menggerakkan perubahan di perdesaan.